“Huuuaaa,
begini tooh bentuknya” pikirku dalam hati.
Bibirku merekah seolah sedang menuju ke alam
lain. Bersih, putih, dan dingin. Seolah-olah kaki mengatakan “hei kamu
mengajakku kemana !” dan hatiku menjawab “tempat yang dulu kita pernah ditolak
memasukinya”. Sungguh miris, miris pada
diri sendiri yang merasa sungguh tak pantas ketika itu, dengan mengenakan sepatu
kets buluk, kemeja seadanya, jilbab pun seadanya, dan satu satunya biang keladinya
adalah aku mengenakan celana jeans ! yaa, aku ditolak karena memakai celana
jeans. Lalu sebenarnya dimana ini? Tempat ini masih berada di dunia, malah
masih dalam kawasan kampus, bahkan tempatnya paling dekat dengan gerbang utama
masuk kampus UIN Sarif Hidayatullah. Aku berada di Fakultas Dirasat Islamiyah
yang memang mewajibkan mahasiswa yang masuk untuk berpakaian sesuai dengan
banner yang dipasang. Banner itu memperlihatkan gambar wanita berjilbab,
memakai rok, anggun sekali dan cantik. “namanya juga buat dipampang pasti
dicari wajah yang menarik”, pikirku kesal waktu itu karena jelas-jelas satpam
ketika itu menolakku untuk masuk.
Dan pada hari itu Jum’at 27 Desember setelah
makan siang aku menuju ke fakultas itu, dengan wajah meyakinkan aku masuk. Dan
dengan membusungkan dada aku
menyombongkan diri di depan banner tersebut.
“sekarang gue sama kaya lo!” dengan bangga aku
melangkah.
Untunglah
hari itu tidak ada satupun orang di lantai satu fakultas itu, hanya ada firda
yang memang datang bersamaku dan seorang wanita di meja resepsionis yang
mukanya terhalang file brosur. Tujuan kami adalah lantai dua untuk melaksanakan
sholat dzuhur, sepanjang jalan aku seperti orang kampung yang selalu meng-ooh
kan setiap sudut ruangan . firda hanya senyum memaklumi. Maklum aku orang
kampung mungkin.
Tapi
tapi tunggu sebentar bukan ini ceritaku, bukan tentang kekampungan ku masuk
fakultas yang bahkan ada di kampus ku sendiri tapi ada yang lain. Cerita yang
menggugah hatiku, cerita tentang dakwah sebenarnya, dan cerita tentang
kekagumanku pada seorang sahabat.
***
Jam semakin berputar aku dan firda masih
berada di mushola yang memang ingin menunggu ashar karena setelah ashar ada acara
yang harus kami hadiri. Satu persatu orang datang dan pergi, kadang berkelompok
kadang sendiri. Kadang berkomat kamit melantunkan ayat suci, kadang mengucapkan
bahasa arab yang sama sekali aku tak mengerti. Seketika aku kagum dengan mereka
yang lancar berbahasa arab “maklum kali yaa anak dirasat” hati sirikku berkata
yang membuatku tidak semakin minder.
Satu
persatu mereka pergi, hingga menyisakan aku dan firda yang menggigil. Di
ruangan terbuka seperti itu AC masih saja terasa dinginnya, semangat sekali dia
menghembuskan angin dingin kepada kita yang sudah gemetar. Demi menghilangkan
kedinginan tersebut, aku dan firda berbaring. Di sepinya ruangan, jam
mendetakkan jarum panjangnya. Aku terdiam lalu mencoba membuka percakapan.
“Firda,
firda lebih suka ada di LDK apa Lisensi?” jawabku yang agak ragu-ragu.
Firda
adalah seorang aktivis kampus, dan organisasi yang diikutinya selalu yang
berbau dakwah. LDK adalah Lembaga Dakwah Kampus yang diikutinya sejak semester
2. Sedangkan Lisensi adalah lingkar studi ekonomi syariah yang diikutinya sejak
semester awal tetapi dia menjadi pengurus ketika menginjak semester 4 sama
sepertiku.
Firda
menyeringai, mungkin dia lelah. Eeh bukan, mungkin dia bingung dengan
pertanyaanku. Dengan respon seperti itu mungkin aku pikir pertanyaanku
sensitif, sehingga aku buru-buru mengganti topik pembicaraan walaupun sebenarnya
aku sangat penasaran.
Setelah
melewati beberapa percakapan, firda sepertinya tahu kepenasarananku sehingga
tiba-tiba ia menanggapinya. Seolah ini pembicaraan serius, dia melepas
kacamatanya dan menaruhnya di samping kepalanya yang masih terbaring.
Aku
bingung sekaligus deg-degan.
Ia
tersenyum .
“Sebenernya
sama aja def, mau LDK sama lisensi bagi aku sama-sama dakwah. Mungkin yang
bedain yaa cuma suasananya aja. Kalo di LDK kan agak serius, cuma kalo di
Lisensi yaa agak santai. Defri tau laah”, jawabnya.
Aku
tersenyum “aaaa ya yaya ngerti aku”, jawabku menanggapi.
“Tapi
def, Defri kenapa dulu mau masuk lisensi? Pasti ada alasannya doong” tanya firda.
Belum
sempat aku menjawab firda sudah meneruskan perkataannya lagi. Ini orang
nanya apa ngeledek siih pikirku
dalam hati.
“Defri
pernah mikir engga? Kalo sebenernya manusia itu diciptakan buat dakwah. Jadi
walaupun firda engga ikut dua-duanya yaa
tugas firda tetep sama buat dakwah”
Aku
berpikir, agak lama dan mulai mengerti. Ooohhhhh iya iya ngerti.
“Lisensi
itu cuma tempat atau sarana kita aja def. Engga lebih. Kita tetep bisa dakwah kan kalaupun engga
masuk lisensi atau LDK. Tapi defri tau engga bedanya?”
“yaah
fir jangan nanyain dakwah sama aku daaah. hehe”, aku mencari alasan.
Firda
tersenyum.
“Amal
jama’i def. Kita dakwah sendiri sama kita dakwah rame-rame tuh beda. Kaya
solat, kalo sendiri kita dapet pahala tapi Allah akan ngasih kelipatan pahala
ketika kita solat berjamaah, yaa seperti itulah kira-kira”
Aku
termenung, tercengang sekaligus menggigil karena memang masih kedinginan.
Aku
menatap firda dan mengiyakan perkataannya. “Yaa Allah, di hari jumat yang
kataMu adalah hari yang memberikan berkah, dihari jumat yang kataMu do’a akan
dijabah, aku bersyukur sekali lagi akan perantaraMu untuk mengetuk hatiku. Aku
bersyukur atas pertemuanku dengan agen dakwahMu ini. Melalu firda aku belajar,
dari firda aku menyadari hal yang tak pernah terpikirkan” diam-diam hatiku
bersukur sekaligus kagum dan aku tersenyum. Dan lagi-lagi di hari yang kataMu
do’a akan dijabah firda berkata yang menjadi do’a bagi kita.
“Makanya
def, inget dunia itu cuma sementara. Kita mash punya tugas berat untuk terus
ngejalanin dakwah. Jangan berhenti pas abis lulus kuliah aja ya def. Semoga untuk
waktu selanjutnya kita masih di kasih tempat buat dakwah kaya sekarang. Biar PR
kita di dunia selesai def”, perkataan itu seolah menjadi do’a yang mulai
mengalun indah di udara dan menuju langit. Menuju Sang Penjabah Do’a berada.
Deg
! hatiku tercekat sekaligus mengamini. “Aamiin
fir, semoga saja”
“Allahu
Akbar, allahu akbar ....” Adzan ashar berkumandang yang menjadi tanda
berakhirnya percakapanku. Kami melanjutkannya dengan sholat berjamaah.
Di
atas sajadah itu aku tersenyum, dan di sela do’a aku bersyukur. Alhamdulillah
atas Jum’at berkahMu yaa Raab.