Sabtu, 28 Desember 2013

Antara Aku, Firda, dan Alunan Do'a di Hari Jum'at

Ditengah perjalanan Ciputat - Kebayoran Lama, Jum'at 27 Des 2013 18:42


“Huuuaaa, begini tooh bentuknya” pikirku dalam hati.

Bibirku merekah seolah sedang menuju ke alam lain. Bersih, putih, dan dingin. Seolah-olah kaki mengatakan “hei kamu mengajakku kemana !” dan hatiku menjawab “tempat yang dulu kita pernah ditolak memasukinya”.  Sungguh miris, miris pada diri sendiri yang merasa sungguh tak pantas ketika itu, dengan mengenakan sepatu kets buluk, kemeja seadanya, jilbab pun seadanya, dan satu satunya biang keladinya adalah aku mengenakan celana jeans ! yaa, aku ditolak karena memakai celana jeans. Lalu sebenarnya dimana ini? Tempat ini masih berada di dunia, malah masih dalam kawasan kampus, bahkan tempatnya paling dekat dengan gerbang utama masuk kampus UIN Sarif Hidayatullah. Aku berada di Fakultas Dirasat Islamiyah yang memang mewajibkan mahasiswa yang masuk untuk berpakaian sesuai dengan banner yang dipasang. Banner itu memperlihatkan gambar wanita berjilbab, memakai rok, anggun sekali dan cantik. “namanya juga buat dipampang pasti dicari wajah yang menarik”, pikirku kesal waktu itu karena jelas-jelas satpam ketika itu menolakku untuk masuk.

Dan pada hari itu Jum’at 27 Desember setelah makan siang aku menuju ke fakultas itu, dengan wajah meyakinkan aku masuk. Dan dengan  membusungkan dada aku menyombongkan diri di depan banner tersebut.
 “sekarang gue sama kaya lo!” dengan bangga aku melangkah.
Untunglah hari itu tidak ada satupun orang di lantai satu fakultas itu, hanya ada firda yang memang datang bersamaku dan seorang wanita di meja resepsionis yang mukanya terhalang file brosur. Tujuan kami adalah lantai dua untuk melaksanakan sholat dzuhur, sepanjang jalan aku seperti orang kampung yang selalu meng-ooh kan setiap sudut ruangan . firda hanya senyum memaklumi. Maklum aku orang kampung mungkin.

Tapi tapi tunggu sebentar bukan ini ceritaku, bukan tentang kekampungan ku masuk fakultas yang bahkan ada di kampus ku sendiri tapi ada yang lain. Cerita yang menggugah hatiku, cerita tentang dakwah sebenarnya, dan cerita tentang kekagumanku pada seorang sahabat.
***

Jam semakin berputar aku dan firda masih berada di mushola yang memang ingin menunggu ashar karena setelah ashar ada acara yang harus kami hadiri. Satu persatu orang datang dan pergi, kadang berkelompok kadang sendiri. Kadang berkomat kamit melantunkan ayat suci, kadang mengucapkan bahasa arab yang sama sekali aku tak mengerti. Seketika aku kagum dengan mereka yang lancar berbahasa arab “maklum kali yaa anak dirasat” hati sirikku berkata yang membuatku tidak semakin minder.
Satu persatu mereka pergi, hingga menyisakan aku dan firda yang menggigil. Di ruangan terbuka seperti itu AC masih saja terasa dinginnya, semangat sekali dia menghembuskan angin dingin kepada kita yang sudah gemetar. Demi menghilangkan kedinginan tersebut, aku dan firda berbaring. Di sepinya ruangan, jam mendetakkan jarum panjangnya. Aku terdiam lalu mencoba membuka percakapan.
“Firda, firda lebih suka ada di LDK apa Lisensi?” jawabku yang agak ragu-ragu.
Firda adalah seorang aktivis kampus, dan organisasi yang diikutinya selalu yang berbau dakwah. LDK adalah Lembaga Dakwah Kampus yang diikutinya sejak semester 2. Sedangkan Lisensi adalah lingkar studi ekonomi syariah yang diikutinya sejak semester awal tetapi dia menjadi pengurus ketika menginjak semester 4 sama sepertiku.
Firda menyeringai, mungkin dia lelah. Eeh bukan, mungkin dia bingung dengan pertanyaanku. Dengan respon seperti itu mungkin aku pikir pertanyaanku sensitif, sehingga aku buru-buru mengganti topik pembicaraan walaupun sebenarnya aku sangat penasaran.
Setelah melewati beberapa percakapan, firda sepertinya tahu kepenasarananku sehingga tiba-tiba ia menanggapinya. Seolah ini pembicaraan serius, dia melepas kacamatanya dan menaruhnya di samping kepalanya yang masih terbaring.
Aku bingung sekaligus deg-degan.
Ia tersenyum .

“Sebenernya sama aja def, mau LDK sama lisensi bagi aku sama-sama dakwah. Mungkin yang bedain yaa cuma suasananya aja. Kalo di LDK kan agak serius, cuma kalo di Lisensi yaa agak santai. Defri tau laah”, jawabnya.
Aku tersenyum “aaaa ya yaya ngerti aku”, jawabku menanggapi.

“Tapi def, Defri kenapa dulu mau masuk lisensi? Pasti ada alasannya doong” tanya firda.
Belum sempat aku menjawab firda sudah meneruskan perkataannya lagi. Ini orang nanya apa ngeledek  siih pikirku dalam hati.
“Defri pernah mikir engga? Kalo sebenernya manusia itu diciptakan buat dakwah. Jadi walaupun  firda engga ikut dua-duanya yaa tugas firda tetep sama buat dakwah”
Aku berpikir, agak lama dan mulai mengerti. Ooohhhhh iya iya ngerti.

“Lisensi itu cuma tempat atau sarana kita aja def. Engga  lebih. Kita tetep bisa dakwah kan kalaupun engga masuk lisensi atau LDK. Tapi defri tau engga bedanya?”

“yaah fir jangan nanyain dakwah sama aku daaah. hehe”, aku mencari alasan.
Firda tersenyum.
“Amal jama’i def. Kita dakwah sendiri sama kita dakwah rame-rame tuh beda. Kaya solat, kalo sendiri kita dapet pahala tapi Allah akan ngasih kelipatan pahala ketika kita solat berjamaah, yaa seperti itulah kira-kira”
Aku termenung, tercengang sekaligus menggigil karena memang masih kedinginan.
Aku menatap firda dan mengiyakan perkataannya. “Yaa Allah, di hari jumat yang kataMu adalah hari yang memberikan berkah, dihari jumat yang kataMu do’a akan dijabah, aku bersyukur sekali lagi akan perantaraMu untuk mengetuk hatiku. Aku bersyukur atas pertemuanku dengan agen dakwahMu ini. Melalu firda aku belajar, dari firda aku menyadari hal yang tak pernah terpikirkan” diam-diam hatiku bersukur sekaligus kagum dan aku tersenyum. Dan lagi-lagi di hari yang kataMu do’a akan dijabah firda berkata yang menjadi do’a bagi kita.

“Makanya def, inget dunia itu cuma sementara. Kita mash punya tugas berat untuk terus ngejalanin dakwah. Jangan berhenti pas abis lulus kuliah aja ya def. Semoga untuk waktu selanjutnya kita masih di kasih tempat buat dakwah kaya sekarang. Biar PR kita di dunia selesai def”, perkataan itu seolah menjadi do’a yang mulai mengalun indah di udara dan menuju langit. Menuju Sang Penjabah Do’a berada.
Deg ! hatiku tercekat sekaligus mengamini.  “Aamiin fir, semoga saja”
“Allahu Akbar, allahu akbar ....” Adzan ashar berkumandang yang menjadi tanda berakhirnya percakapanku. Kami melanjutkannya dengan sholat berjamaah.
Di atas sajadah itu aku tersenyum, dan di sela do’a aku bersyukur. Alhamdulillah atas Jum’at berkahMu yaa Raab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar